
Tahun
ini untuk kesekian kalinya TNI - POLRI mengadakan latihan anti teror.
Beberapa waktu lalu, latihan serupa ditempatkan terpusat di Gedung DPR.
Tetapi mungkin, pada latihan kali inilah yang terbesar. Ribuan personel
anti teror dari TNI AD ( Kopassus/Sat 81 Gultor, Tim Gultor Raider, Tim
Gultor Ton Tai Pur), TNI AL (Tim Anti Teror Kopaska dan Detasemen Jala
Mengkara Korps Marinir yang sebenarnya gabungan Kopaska dan IPAM), TNI
AU (Paskhas) dan Polri (Densus 88 dan Tim Gegana Anti Teror) bergabung
untuk melaksanakan latihan bersama di 6 propinsi.
Sebenarnya poin penting dalam latihan ini ada 3 hal :
1.
Mempertegas "porsi" atau "Main Area" tiap - tiap satuan yang
sesungguhnya walaupun dalam latihan masing - masing hampir semua satuan
mempunyai kemampuan yang hampir sama.
2. Mempertahankan dan bertukar "ilmu" bagi satuan - satuan anti teror di lingkungan TNI dan Polri.
3. Antisipasi terhadap gerakan terorisme sekaligus peningkatan pengawasan fungsi intelijen.
Dalam
latihan ini terlihat jelas bahwa sebenarnya hampir semua unit
Infanteri, telah menguasai Strategi Perang Jarak Dekat (PJD) atau isilah
kerennya Close Quarter Battle. Cuma, kalau kita lihat videonya secara
utuh...kok banyak operator dari pasukan kita yang teledor dan gerakannya
kurang silent. Seharusnya mereka sadar ini bukan film laga dan
ajang..sok cool... gagah - gagahan. Ingatlah bahwa tugas berat menanti
di depan mata... Seharusnya para komandan lapangan menyadarkan para
operatornya bahwa seperti inilah keadaan sebenarnya ketika aksi teror
terjadi..jadi bergeraklah dengan cepat, tepat dan senyap.
Yang
paling meragukan saya adalah gerakan manuver Densus 88. Logikanya
apabila si teroris juga mantan pasukan sejenis bisa dipastkan semua
operator Densus 88 akan tewas. Bagaimana tidak ? mereka sering sekali
terlihat bergerombol ketika menyerang. Padahal konsep PJD adalah satu
lawan satu. Gerakannya harus berjarak dan terjadwal tepat dan cepat.
Mungkin
ke depan perlu dievaluasi ulang agar skenario pembajakan, penyanderaan
95% menyerupai aslinya...atau operator pasukan anti teror diminimkan
data intelijennya agar mereka selalu waspada dan instingnya selalu
terjaga.